In Time, film Sci-Fi supe imajinatif tentang waktu. Di film itu sangat berlaku peribahasa 'Time is Money'. Nggak ada uang, nggak ada ATM, kartu kredit, semua pembayaran dilakukan dengan waktu hidup mereka. Makan serba cepat, orang lalu lalang dengan setengah lari, nggak ada tuh yang sempet catwalk. Tujuannya satu, biar waktunya nggak cepat habis. Time is priceless.
Kebayang kan, kriminalitas ibarat snack sehari hari. Orang jahat tetep ada, Semuanya sama-sama butuh hidup. Transfer waktu, nyuri waktu dari seseorang adalah hal lumrah. Makanya diceritakan juga orang orang tewas bergeletakan di jalan-jalan adalah pemandangan sehari hari.
Nah, itu kan di film. Pemandangan manusia bergeletakan tanpa nyawa bukan lagi hal imajinatif yang cuma ada di angan-angan manusia. Datanglah ke Somalia atau Ethiophia. Dan 'Welcome to the Black Parade'. Setiap 100 detik satu anak Somalia meninggal karena kekurangan makanan. Wah, kalo ini mah bahasanya kurang tepat kalo aku bilang kekurangan, tapi ketiadaan pangan.
Pertama kali aku tau tentang ini saat masih semangat semangatnya baca koran The Jakarta Post. Sayang, karena harganya yang terlalu mahal, dan isinya yang nggak setebal koran biasa, minatku untuk setia ke koran bahasa inggris itu luntur seketika... (eh, kok jadi cerita si)
Jadi gini, ada kolom khusus opini pembaca, kebetulan edisi itu ditulis Ban Ki Moon. Ia miris melihat kenyataan dan berita tentang kelaparan di Somalia dan sekitarnya.
Yang lebih miris lagi, saat Ban Ki Moon mengutip kata-kata seorang Ibu "Bayangkan bagaimana perasaan anda melihat anak-anak anda mati di depan mata anda hanya karena anda tidak mampu memberinya makan?"
LIFE GOES ON
Tampilkan postingan dengan label feature. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label feature. Tampilkan semua postingan
Jumat, 04 Mei 2012
Jangan Pernah Mengeluh Soal Makanan
Jumat, 30 September 2011
A Crazy little Thing Called Love
Woy, apa apaan nih judul? Ehem, kayaknya admin kita lagi jatuh cinta ni, hehe...
Enggak kok, ini tuh judul salah satu film Thailand. Eh, ngomong2 soal Thailand, keliatannya negeri kenbar siam ini udah mulai menampakkan kejayaannya. Haha, nggak bisa nyastra (nyastra? apaan tuh?)
Eh, admin basa basi bentar ya.. Kalo kalian update tentang buku, atau minimal sering ke toko buku lah. Gramedia misalnya, entah tujuannya survey buku-buku manajemen, entrepreneurship, nyari komik, atau cuma pengen liat cover-cover buku (ini mah arifa banget~). Kalian pasti ngerasa, banyak banget buku yang memprediksi kalau pemegang kekuasaan dunia nantinya adalah China. Buku buku begitu biasanya nampang di singgasana Best seller. Covernya, biasanya merah terang dengan ukiran atau ornamen berbau china lengkap dengan kepala naganya.
Selain China, negara yang diramalkan akan jadi penguasa dunia adalah India. INDIA? bener, man... Liat kan, film India akhir akhir ini udah nggak kejar-kejaran dan nyanyi-nyayian lagi, Tapi,
Enggak kok, ini tuh judul salah satu film Thailand. Eh, ngomong2 soal Thailand, keliatannya negeri kenbar siam ini udah mulai menampakkan kejayaannya. Haha, nggak bisa nyastra (nyastra? apaan tuh?)
Eh, admin basa basi bentar ya.. Kalo kalian update tentang buku, atau minimal sering ke toko buku lah. Gramedia misalnya, entah tujuannya survey buku-buku manajemen, entrepreneurship, nyari komik, atau cuma pengen liat cover-cover buku (ini mah arifa banget~). Kalian pasti ngerasa, banyak banget buku yang memprediksi kalau pemegang kekuasaan dunia nantinya adalah China. Buku buku begitu biasanya nampang di singgasana Best seller. Covernya, biasanya merah terang dengan ukiran atau ornamen berbau china lengkap dengan kepala naganya.
Selain China, negara yang diramalkan akan jadi penguasa dunia adalah India. INDIA? bener, man... Liat kan, film India akhir akhir ini udah nggak kejar-kejaran dan nyanyi-nyayian lagi, Tapi,
Langganan:
Postingan (Atom)
